Oleh : Lalu Muhammad fauzi
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan pemerintah. Peralihan bentuk pendidikan informal (keluarga) ke formal (sekolah) memerlukan kerja sama antara keluarga dan sekolah (pendidik). Untuk menunjukan keperdulian orang tua terhadap pendidikan anak, mereka memperhatikan sekolah anaknya. Peran orang tua terhadap pendidikan anak adalah memberikan pendidikan dasar. Selain itu peranan keluarga mengajarkan nilai-nilai dan tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma agama.
Sepertinya semua orang tua memiliki cita-cita agar anaknya mendapat pendidikan terbaik dan setinggi-tingginya. Karena bagaimana pun warisan yang paling berharga yang diberikan orang tua adalah pedidikan. Sayangnya untuk mendaptkan pendidikan yang bermutu, orang tua harus membayar mahal. Buat orang-orang yang mampu barang kali biaya tidaklah menjadi permasalahan, akan tetapi buat orang yang dengan tingkat ekonomi dibawah, ini menjadi sebuah persoalan besar. Terkait dengan tanggung jawab keluarga terhadap pendidikan anaknya, buat orang miskin sepertinya tidak seimbang antara tanggung jawab dan hak untuk mengenyam pendidikan formal. Terbentur dengan biaya lagi dengan tingkat keinginan orang tua menyekolahkan anaknya. Adakah sekolah yang buat mereka yang miskin sehingga tidak mengorbitkan para gelandangan dan orang-orang bodoh.
Pendidikan dengan biaya yang sangat tinggi mengakibatkan warga masyarakat yang miskin ingin mengikuti pendidikan mengalamai kesulitan, sehingga pendidikan nasional belum dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Pendidikan yang berkualitas dan tinggi hanya diperuntukan buat orang-orang dengan akses ekonomi dan politik yang cukup tinggi.
Penyelenggaraan pendidikan tidak sekedar merekrut masa untuk menjadi anak didiknya. Disatu sisi, berbagai sekolah membuka tempat pendidikan dengan mengutamakan mereka-mereka yang berkatong tebal (orang kaya). Tak ayal lagi sekarang ini pemenuhan materi dengan kedok pendidikan. Dengan dalih sekolah unggulan, peningkatan mutu, dan lain sebagainya, sehingga membebankan biaya pendidikan kepada orang tua dari anak didiknya. Yang menjadi pertanyaan buat kita dengan penomena yang teradi adalah adakah tempat mereka kaum miskin untuk menuntut ilmu?. Pemerintah memberikan anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dengan mengeratiskan biaya SPP, tetapi gratis buat siapa? Kenapa masih terjadi penambahan biaya pada beberapa sekolah yang menamakan dirinya sekolah paforit dengan dalih subsidi itu tidak cukup untuk penyelenggaraaan pendidkan, lantas sekalai lagi saya katakana adakah tempat buat orang miskin yang dengan serba kekurangan bersekolah atau mengenyam pendidikan formal?. Apakah orang miskin akan tetap bodoh?.
Sisi lain, kita melihat hakekat pendidikan adalah membuat manusia dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti, dari yang bodoh menjadi pintar dan seterusnya. Benarkah hakekat pendidikan ini telah dilakukan oleh penyelenggara pendidikkan. Kalau iya, kenapa masih terjadi selekasi masuk sekolah, bukankah selekasi itu memilih mereka yang unggul untuk diterima sehingga orang yang bodoh tetap bodoh karena tidak bisa bersekolah.
1 komentar:
Dilihat dari tepenuhinya keinginan orang tua menyekolahkan anak setingi-tingginya dan keinginan anak untuk mendapatkan pendidikan, dari cara pandang dan pengamatan saya sendiri ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, perlu kerjasama yang solid antara anak yang akan bersekolah dan orang tua yang akan menanggung dana.Kerjasama dalam hal ini adalah semangat orang tua untuk mencari nafkah sebagai biaya menyekolahkan anak dan motivasi yang tinggi, bagi anak itu sendiri perlu usaha untuk menunjukkan keseriusan belajar dan mnunjukkan potensi yang dimiliki secara maksimal. Menteri Pariwisata dan Kebudayaan, Jero Wacik dalam suatu temu Wicara pernah menyatakan bahwa ada tiga aspek yang mendukung pendidikan bagi generasi penerus bangsa:
1) Minat/kemauan
2) Kemampuan Akademis/kecerdasa
3) Dana
Urutan ini tidak bisa dibolak-balik, artinya yang paling menentukan adalah keinginan atau minat untuk bersekolah dan menyekolahkan anak. Jika materi banyak, tapi anak tidak serius sekolah maka akan menimbulkan masalah juga. Jika uang banyak, tapi orang tua tidak mau mengalokasikan untuk biaya pendidikan maka akan mubazir juga. Kedua, kemampuan menentukan karena dengan adanya kemampuan mereka akan bisa mengikuti pendidikan minimal berada di posisi "rata-rata". Sementara dana ada di urutan ketiga. artinya biaya bisa dicari sambil jalan. anak bisa mengejar biaya pendidikan melalui beasiswa, sementara orang tua mencari biaya lewat keahlian yang dimiliki. Suatu contoh saya pernah membasa kisah sukses seorang tukang cukur yang bisa meluluskan 7 dari 8 anaknya pada pendidikan Sarjana dan satu anknya lulus SMA (karena tidak ingin kuliah).
Jika dilihat dari seleksi, seleksi memang perlu untuk memotivasi belajar siswa. tetapi menurut pandangan saya seleksi perlu diadakan apabila ada pilihan sekolah lain di daerah bersangkutan, artinya jika di suatu daerah terpencil yang secara geografis sulit untuk memperoleh memperoleh pilihan sekolah maka minat adalah prioritas utama, dengan kata lain jika orang tua ingin menyekolahkan anknya dan anak bersangkutan mau sekolah maka harus diterima.
Itulah sekit pandangan saya selaku pembaca dan saya yakin diskusi dalam pendidikan adalah keperluan kita sebagai pendidik. Terima kasih, terus berkarya dan bisa juga komentari tulisan saya di blog: jerobusy.blogspot.com.
Dengan adanya komentar, kita dapat merefleksikan diri, karena saya yakin pengetahuan akan tercermin dari kemampuan kita merealisasikan ide dalam suatu tulisan.
Selamat berkarya kawan.
(Jero)
Posting Komentar