Oleh: Lalu Muhammad Fauzi
Pendidikan adalah sebuah aksi yang membawa seseorang (anak/peserta didik) keluar dari kondisi tidak merdeka, tidak dewasa, dan tergantung pada sesuatu. Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian peristiwa yang kompleks. Pristiwa tersebut merupakan rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia sehingga manusia itu tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Manusia tumbuh melalui belajar. Karena itu, belajar merupakan proses pencarian ilmu dengan befikir.
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru, yang sebagiannya sering tidak dapat diramalkan sebelumnya. Oleh karena itu perlu adanya persiapan-persiapan yang mampu membawa kita menuju zaman yang dalam keadaan bagaimanapun.
Sekarang apa yang kita temukan dalam pengalaman kita?. Dalam hal apa pengalaman itu dapat dianalisa?. Kita mendapatkan sejumlah unsur indrawi yang lebih menyerupai obyek-obyek fisik sebagaimana dipahami oleh nalar umum, ketimbang yang diakibatkan oleh fikiran kita semata. Hal-hal tersebut, atau setidaknya image, sangat erat hubungannya dengan proses pemikiran kita. Barang kali ada keraguan mengenai apakah kita dapat berfikir secara pasti tampa menggunakan suatu perumpamaan tertentu. Kata-kata sendiri merupakan imaji inderawi atas tanda-tanda hitam diatas kertas atau imaji diatas suara.
Dalam proses pencapaian keputusan pendidikan, semestinya kita berorientasi pada masa depan yang tidak hanya terbatas pada yang rasional atau yang didokumentasikan saja. Melainkan untuk membantu kita sebagai pembuat keputusan untuk sensitif terhadap adanya berbagai alterntif masa depan dan juga terhadap konsekuensi yang mungkin ditimbulkan oleh suatu tindakan tertentu. Walaupun, sering kita beranggapan bahwa tujuan akhir dari pendidikan itu adalah untuk menemukan materi semata.
Berdasarkan sikap orang yang berpartisifasi dalam studi, berorientasi pada masa depan, sebagian besar spesialis riset kebijakan mengemukakan pandangan yang sangat optimis tentang masa depan. Mereka menganggap bahwa masa depan itu tergantung dari manusia itu sendiri dengan memanfaatkan intelegensi kolektif mereka, sehingga sanggup menghadapi ancaman. Akan tetapi apakah hanya dengan kemampuan intelegensi saja bagaimana dengan kemampuan agama mereka?
1 komentar:
Dalam suatu kesempatan dan bahkan dalam setiap kesempatan, saya sering berfikir bahwa saya akan melakukan sesuatu yang maksimal jika berada pada situasi dan tempat tertentu. Namun sering kita tidak menyadari bahwa waktu yang akan datang dan tempat yang kita impika adalah suatu "masa depan". Dan seringlah suatu lamunan tertentu akhirnya berakhir dengan suatu jawaban yang cukup memotivasi. Saat ini adalah masa depan saya dahulu, maka lakukan semua hal yang kita inginkan saat ini juga "Karena saat ini adalah masa depan kita"
Thank, Jero
Posting Komentar