Oleh : Lalu Muhammad Fauzi
Pada hakekatnya pendidikan dalam kontek pembangunan nasional mempunyaio fingsi (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan dan, (3) pengembangan potensi diri. Standar nasional pendidikan memuat criteria minimaltentang komponen pendidikan yang memungkunkan setiap jenjang dan jalur pendidikan untuk mengembangkan pendidikan secar optimal sesuai denga karakteristik dan kehasan programnya. Demikian juga untuk jalur pendidikan non formalyang memiliki karakteristik tidak tersetruktur untuk mengembangkan programnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Istilah kurikulum memiliki berbgai tafsiran yang dirum,uskan oleh pakar-pakar dalam bidang ppengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan sekarang ini. Dari serangkaian tafsiran para pakar-pakar ini memberikan arti kurikulum sebagai:
1. Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran
Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.
2. Kurikulum sebagai rencama pembelajaran.
Suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program ini siswa melakukan berbagai kegiatan belajarbelajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.
3. Kurikulum sebagai pengalaman belajar
Coba kita lihat salah satu bagian dari tujuan umum pada SK dan KD yaitu:
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Dilihat dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa pada seluruh komponen baik pada SI, SK dan KD serta pada SKL telah dijabarkan dengan jelas bahwa pendekatan yang digunakan pada matematika adalah pemecahan masalah (problem solving). Tapi perlu kita tahu apa itu pendekatan pemecahan masalah dalam matematika.
Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan kemampuan dan keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan dalam pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Melalui kegiatan ini aspek-aspek kemampuan matematika penting seperti penerapan aturan pada maslah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi matematika dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik. Namun demikian, kenyataan dilapangan menunjukan bahwa kegiatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika belum dijadikan sebagai kegiatan utama. Padahal di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan jepang kegiatan tersebut dapat dikatakan merupakan inti dari dari kegiatan pembelajaran matematika sekolah. Selain itu, Suryadi dkk (1999) dalam survey tentang “Curerent situation on mathematics and science education in Bandung” yang diseponsori oleh JICA, antara lain menemukan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matemtika yang dianggap penting baik oleh para guru maupun siswa di semua tingkatan sekolah dasar dan menengah. Tapi hal tersebut menjadi sebuah persoalan yang sulit dalam matematika baik bagi siswa dalam mempelajarinya maupun bagi guru dalam mengajarkannya. Yang menjadi pertanyaan mengapa terjadi demikian? Jawabanya adalah karena para guru masih belum mau melepaskan metodee drill, atau mungkin belum dipahaminya tentang pendekatan pemecahan masalah dalam matematika atau mungkin para guru iongin mengambil gampangnya saja.
Sebagaiman tercantum dalam Kurikulum Matematika sekolah bahwa tujuan diberikannya matematika antara lain agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan di dunia yang selalau berkenbang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif. Hal ini jelas merupakan tuntunan sangat tinggi yang tidak mungkin bias disapai hanya melalui hafalan, latihan penyelesaian soal yang bersifat rutin, serta proses pembelajaran biasa.
Disadari atau tidak setiap hari kita harus menyelesaikan berbagai masalah. Dalam penyelesaian suatu masalah, kita sering kali dihadapkan pada suatu hal yang pelik dan kadang-kadang pemecahannya tidak dapat diperoleh dengansegera. Tidak bias dipungkiri masalah yang biasa dihadapai sehari-hari itu tidak selamanya bersifat matematis. Dengan dedmikian tugas utama guru adalah untuk membantu siswa menyelesaikan berbagai masalah dengan spectrum yang luas yakni membantu mereka untuk dapat memahami makna kata-kata atau istilah yang muncul dalam suatu masalah sehingga kemampuannya dalam memahami konteks madalah bias terus berkembang, menggunakan kemampuan inkuiri dalam sain, menganalisa alas an mengapa suatu masalah itu muncul dalam studi social, dan lain-lain. Dalam Matematika, hal tersebut bisa berupa pemecahan masalah matematika yang didalamnya termasuk soal ceritera.
Guru menghadapi kesulitan dalam mengerjakan bagaimana cara menyelesaiakan masalah dengan baik, dilain fihak siswa menghadapi kesulitan bagaimana menyelesaikan madalah yang dibnerikan guru. Berbagai kesulitan ini muncul antara lain karena mencari jawaban dipandang sebagai satu-satunya tujuan yang ingin dicapai. Karena hanya berfokus padda jawaban, anak seringkali salah dalam memilih teknik penyelesaian yang sesuai.
Suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Juka suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak itu langsung mengetahu secara sara penyelesaiannya dengan benar maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai maslah.
Berbisara tentang pemecahan masalah tidak bisa lepas dari tokoh utamanya yaitu G. Polya. Menurut Polya, dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah yang harus dilakaukan yaitu: (1) memahami masalah, (2) merencanakan pemecahannya, (3) menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana dan (4) memeriksa kembali hasil yang diperoleh.
Empat tahap pemecahan malsalah dari Polya tersebut merupakan satu kesatuan yang sangat penting untuk dikembangkan. Salah satu cara mengembangkan kemampuan anak dalam memecahkan maslah adalah melalui mpenyedian pengalaman pemecahan masalah yang memerlukan strategi yang berbeda-beda dari satu masalah ke maslah lain.
Daftar pustaka
Suherman, H. Erman dkk, (2003), Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, UPI, Bandung.
Hamalik, Umar. (2007), Kurikulm dan Pembelajaran, Bumi aksara.
______, (2007) Panduan Penyususnan KTSP Lengkap,Pustaka Yustitia, Yogyakarta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar:
terimakasih atas tuisannya pak. semoga bermanfaat. wahyudi PMB 2009
gimana cara mendapatkan buku strategi pembelajaran matematika kontemporer karya bapak erman suherman? saya kesulitan mencari buku tersebut? ada kontak yang bs saya hubungi.. trimakasih..
Posting Komentar