PSIKOLOGY PENDIDIKAN
oleh. LALU MUHAMMAD FAUZI
A. Pendahuluan
Psikologi berasal dari kata “Psyche” yang artinya jiwa dan “Logos” yang berarti ilmu. Secara harafiah, Psikologi dapat diartikan sebagai Ilmu Jiwa. Namun penjelasan bahwa psikologi sebagai Ilmu Jiwa saja masih belum bias memberikan keterangan yang cukup.
Psikologi berdiri sebagai sebuah ilmu pengetahuan pada tahun 1879, namun pengenalan akan psikologi (gejala-gejala kejiwaan) sudah dipelajari oleh filsafat dan faal. Filsuf-filsuf pada jaman Yunani kuno seperti Socrates, Plato dan Aristoteles, juga sudah memberikan beberapa hasil pemikirannya di bidang psikologi.
Psikologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang baru tumbuh dengan pesat dan memiliki banyak perkembangan dalam hal materi/subjek danmetodemetode penelitan. Beberapa studi yang sudah dilakukan semenjak Psikologi berdiri sebagai ilmu pengetahuan.
Psikologi sebagai studi mengenai pengalaman yang disadari Studi ini dilakukan pada tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt, seorang yang mendirikan laboratorium psikologi pertama di Leipzig, Jerman. Wundt membatasi studi ini pada pengalaman-pengalaman sadar yang dialami oleh manusia. Wundt mempercayai bahwa semua pengalaman-pengalaman sadar manusia merupakan kombinasi yang kompleks dari sensasi-sensasi yang dirasakan oleh manusia. Oleh karena itu Wundt berusaha untuk menemukan sensasi dasar dengan menggunakan metode instropeksi.
Wundt dapat dikatakan sebagai psikolog pertama yang berusaha untuk memisahkan psikologi dari filsafat dan faal yang juga memiliki ketertarikan dalam psikologi. Pendekatan yang dilakukan oleh Wundt terfokus pada bagaimana manusia mengenali sensasi yang dialami. Hal ini juga yang akhirnya berhasil menjadikan psikologi sebagai suatu disiplin ilmu yang mandiri.
Psikologi sebagai studi mengenai proses-proses ketidaksadaran Bagi Sigmund Freud kesadaran hanyalah seperti sepotong gunung es kecil yang berada di atas permukaan air, sedangkan ketidaksadaran merupakan gunung es yang berada di bawah permukaan air. Tidak terlihat tetapi sangat besar. Di bawah permukaan terletak kebutuhan-kebutuhan biologis yang memerlukan penyaluran namun berbenturan dengan nilai-nilai sosial dan moral. Menurut Freud, konflik-konflik ini tanpa disadari memberikan pengaruh yang sangat kuat pada pemikiran dan tindakan manusia. Konflik ini juga bertanggungjawab pada sebagian besar perilaku manusa, termasuk juga pada gejala-gejala fisik yang mengganggu.
Untuk menggali pengalaman-pengalaman tak sadar, Sigmund Freud menggunakan metode asosiasi bebas. Dalam metode ini, klien dikondisikan dalam keadaan yang benar-benar relaks dan diberi stimulus tertentu kemudian klien dimintan untuk menceritakan benda apa yang dilihatnya tersebut sesuai dengan imajinasi bebasnya. Tidak jarang Sigmund Freud juga menggunakan metode hypnosis untuk menggali pengalaman-pengalaman tak sadar klien.
Psikologi sebagai studi mengenai perbedaan individu Setiap manusia berbeda dan memiki keunikan tersendiri. Hal ini yang dipercaya dan diteliti oleh Sir Francis Galton, seorang ahli yang tertarik pada perbedaan individu ditinjau dari sudut pandang biologis. Menurut Sir Francis Galton, sifat genetik manusia menyebabkan terjadi perbedaan pada karakter, kemampuan, dan perilaku pada tiap individu.
Data-data penelitian tersebut dikumpulkan berdasar pada studi biografi yang dilakukan oleh Galton. Metode yang digunakan adalah dengan membuat prosedur test yang dapat digunakan untuk melihat kemampuan dan karakteristik manusia. Walaupun tes yang dilakukan masih tergolong primitif, dibandingkan dengan tes psikologi sekarang, namun teknik statistika yang digunakan hingga sekarang masih digunakan. Meskipun penelitian yang dilakukan oleh Galton sebenarnya dilakukan sebelum psikologi menjadi sebuah disiplin ilmu yang mandiri, metode dan tekniknya secara cepat menjadi aspek sentral dari ilmu psikologi. Salah satu isu penting yang dikemukakan Galton dan hingga saat ini menjadi kontroversi dan memicu munculnya banyak penelitian adalah mengenai apakaah perilaku manusia dipengaruhi oleh genetis atau lingkungan.
Psikologi sebagai studi mengenai perilaku yang dapat diamati Studi ini lebih menitik beratkan pada studi mengenai perilaku-perilaku manusia sehubungan yang dapat diamati dan diukur. Salah satu penelitian yang terkenal mengenai perilaku dilakukan oleh Ivan Pavlov, seorang fisiologis Rusia. Penelitian ini meneliti mengenai hubungan antara stimulus dan respon yang semuanya dapat diukur dan diperkirakan. Studi mengenai perilaku ini sampai sekarang masih sering digunakan dalam psikologi.
Psychology Today
Dari sejarah psikologi tersebut dapat dimengerti bahwa sebagai ilmu pengetahuan, psikologi memiliki sejarah yang cukup banyak berhubungan dengan displin ilmu yang lain. Oleh karena itu, pendekatan-pendekatan (sudut pandang) dalam Psikologi sangat beragam. Aspek psikologi manusia dapat ditinjau dari berbagai pendekatan atau sudut pandang. Contohnya dalam mempelajari perilaku agresi seseorang, seorang ahli psikologi fisiologi akan lebih tertarik pada penyelidikan mekanisme otak yang menyebabkan orang tersebut bertindak demikian, namun seorang ahli psikologi behaviorisme lebih tertarik pada pengalaman belajar yang membuat orang biasa menjadi lebih agresif dibanding lainnuya, sedangkan ahli psikologi kognitif akan lebih fokus pada gambaran mental tentang kejadiankejadian tertentu yang bisa menimbulkan kemarahan dan berusaha mengubah gambaran mental ini menjadi suatu informasi yang tidak menimbulkan kemarahan. Demikan juga yang dilakukan oleh ahli psikoanalisa yang dalam contoh kasus ini akan berusaha melihat kemarahan sebagai suatu proses tak sadar karena adanya pengalaman-pengalaman traumatis pada seseorang.
Sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa salah satu pendekatan lebih baik daripada pendekatan lainnya. Setiap pendeketan dilengkapi oleh pendekatanpendekatan yang lainnya supaya analisis dapat dilakukan secara mendalam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak mudah mendifiniskan sebuah kata “psikologi”, karena definisi tersebut akan sangat bergantung pada pendekatan yang digunakan.
Seorang Psikolog Indonesia, Drs. Sarlito Wirawan Sarwojo berusaha mendifinisikan sebagai berikut: “Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkahlaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.” Dari definisi di atas ada 4 unsur yang penting yang harus ada dalam psikologi yaitu: Pengetahuan, yaitu suatu kumpulan pengetahuan yang sistematis dan memiliki metode-metode tertentu. Sebenarnya selain sebagai ilmu, psikologi juga adalah seni karena memerlukan ketrampilan dan kreativitas tersendiri.
Tingkahlaku atau perbuatan. Tingkahlaku memiliki arti yang lebih konkrit dari jiwa. Tingkahlaku manusia dapat dikelompokkan menjadi tingkahlaku terbuka dan tingkah laku tertutup. Manusia. Obyek materiil dari ilmu ini adalah manusia, karena manusiala yang paling berkepentingan dengan ilmu ini untuk diterapkan dalam aspek-aspek kehidupannya. Hewan memang masih menjadi obyek studi psikologi, namun hanya menjadi perbandingan saja untuk mencari fungsifungsi psikologis sederhana dari manusia. Selain itu juga dikarenakan alasan kemanusiaan, sehingga digunakan hewan sebagai obyek penelitian. Lingkungan, yaitu tempat di mana manusia itu hidup, menyesuaikan diri dan mengembangkan dirinya. Setiap mahkluk hidup melakukan penyesuaian diri, namun terdapat perbedaan cara menyesuaikan diri pada manusia maupun hewan. Manusia tidak dilengkapi tubuh dengan organorgan tertentu, misalkan bulu yang lebat untuk hidup di derah yang dingin, namun manusia diber akal budi untuk melakukan
B. Pembahasan
Dari difinisi dapat dipahami bahwa psikologi sangat berguna dan dapat membantu ilmu-ilmu yang lainnya. Ilmu-ilmu social sangat berhubungan dekat dengan psikologi. Selain itu ilmu pasti dan teknologi juga berhubungan dengan psikologi terutama ilmu yang harus diamalkan untuk kepentingan manusia. Berikan contoh ilmu apa saja yang berhubungan dengan psikologi! Ilmu-ilmu yang kurang menggunakan psikologi adalah ilmu yang secara tidak langsung berhubungan dengan manusia sebagai obyeknya, seperti ilmu pengetahuan murni dan ilmu pengetahuan alam.
Perkembangan psikologi sebagai ilmu pengetahuan dewasa ini tidak hanya memperhatikan aliran yang sifatnya teoretis saja namun juga kegunaan dan fungsi psikologi itu sendiri. dan membuat kesan seperti garis. Prinsip pengelompokkan seperti ini mengikuti prinsip proximity (kedekatan).
Beberapa ahli menyatakan bahwa semua prinsip Grouping dapat disatukan dalam satu konsep yaitu simplicity (kesederhanaan). Pola yang sederhana dapat dipersepsi secara lebih mudah daripada pola yang kompleks. Simplicity merupakan hasil dari prinsip-prinsip proximity, continuity, dan similarity. Figure and ground (wujud dan latar) Obyek yang ada di sekitar kita selalu muncul sebagai wujud dan latar.
Wujud ini seringkali merupakan fokus obyek yang kita lihat dengan seksama, sedangkan latar adalah obyek-obyek lain yang ada di sekitarnya. Apabila kita melihat sebuah potret, kita biasanya dapat membedakan antara wujud dan latar secara otomatis. Kemampuan untuk membedakan antara wujud dan latar tidak dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.
Penelitian terhadap orang buta sejak lahir yang kemudian bias melihat lewat proses operasi mata, dalam waktu singkat dapat membedakan antara wujud dan latar, walaupun mereka tidak memiliki pengalaman sama sekali mengenai detil visual. Konsep wujud dan latar ini tidak hanya terjadi pada proses visual saja, namun juga dapat terjadi pada semua proses penginderaan. Contohnya, banyak bau-bauan yang terdapat di bagian kosmetik di sebuah swalayan. Namun hidung kita hanya mencium secara detil bau parfum yang sudah kita kenal.
1. Persepsi
Sebuah kesadaran organisme terhadap obyek dan kejadian yang terdapat pada lingkungan, yang disebabkan karena adanya rangsangan pada indera organisme tersebut. Proses aktif manusia dalam memilah, mengelompokkan serta memberi makna pada informasi yang diterimanya.
Persepsi pada manusia dapat terjadi apabila ada STIMULUS yang kemudian ditangkap oleh INDERA manusia. Penangkapan stimulus ini menimbulkan SENSASI pada diri individu sehingga akhirnya dilakukan penghayatan / pemahaman oleh individu sehingga timbullah PERSEPSI.
Otak memiliki kemampuan untuk melengkapi informasi yang hilang, karena otak memiliki pola kerja tertentu. Dunia yang kita kenali melalui persepsi ini sangat kompleks. Kita sering menjumpai obyek yang sangat bervariasi dalam hal bentuk, ukuran, warna, namun otak kita tetap dapat memproses secara stabil, walaupun stimulusnya seringkali berubah-ubah. Beberapa penjelasan dilakukan untuk menjelaskan persepsi manusia, termasuk pendekatan Gestalt yang menekankan pada pola-pola secara menyeluruh dan juga menekankan pada dekomposisi dari sebuah pola menjadi bagian-bagian. Gestalt adalah sebuah kata dalam bahasa Jerman yang berarti bentuk. Gestalt juga bisa berarti keseluruhan / menyeluruh. Prinsip Gestalt mengutamakan keseluruhan daripada bagian-bagiannya. Dua konsep utama gestalt adalah grouping (pola pengelompokkan) dan figure and ground (pola wujud dan latar). Grouping (pola pengelompokkan). Dalam proses persepsi terdapat kecenderungan untuk mengelompokkan hal-hal tertentu.
Prinsip Similarity. Prinsip ini menekankan pada kesamaan-kesamaan yang terdapat pada stimulus-stimulus. Pada gambar 1a, karena bentuk titik, ukuran dan jaraknya sama satu dengan yang lain, maka tidak ada suatu pola yang tertentu yang dapat dipersepsi. Atau dengan kata lain, kita hanya dapat melihat titik-titik saja.
2. I l u s i
Dalam melakukan persepsi, manusia terkadang juga melakukan kesalahan yang dinamakan ilusi. Ilusi adalah sebuah persepsi yang tersambung pada obyek atau kejadian yang nyata dan hal ini disebabkan karena adanya distorsi secara fisik ataupun secara psikologis.
Persepsi yang dibentuk oleh manusia seringkali sangat berbeda satu sama lain, walaupun dipicu oleh obyek yang sama. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan dalam persepsi manusia adalah :
a. Perhatian, contoh : kita hanya mendengar suara tertentu dari sekian banyak suara yang terdengar
b. Pengalaman dan Harapan, kedua hal ini saling berinteraksi dalam membentuk persepsi. Contoh : harga terlalu mahal atau terlalu murah tergantung harapan
c. Motivasi dan kebutuhan, contoh : orang lapar akan sangat tertarik pada stimulus yang berhubungan dengan makanan dan mengaibaikan stimulus yang lain
d. Sistem nilai, berhubungan dengan kebudayaan dan terkadang dengan agama. Contoh : gerakan-gerakan tertentu.
e. Ciri kepribadian. Contoh : Orang yang punya PD tinggi akan punya pandangan yang berbeda terhadap orang lain dibandingkan dengan orang yang PDnya rendah
f. Gangguan kejiwaan. Gangguan kejiwaan dapat menimbulkan kesalahan persepsi yang disebut halusinasi. Berbeda dengan ilusi, halusinasi hanya bersifat individual.
3. Berpikir dan Belajar
a. Berpikir
Berpikir adalah sebuah aktifitas psikis yang intensional dimana individuberusaha untuk menghubungkan pengertian satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan pemecahan dari masalah yang dialaminya (Bigot et al., 1950) Berpikir adalah sebuah tingkahlaku yang menggunakan idea yaitu sebuah proses simbolis, bukan sebuah tingkahlaku yang dilakukan oleh alat-alat sensoris atau motoris.
Proses berpikir pada dasarnya memerlukan 3 langkah (Sumadi Suryabrata,1993)
a) Pembentukan pengertian. Pengertian dapat diperoleh dengan cara
b) Secara tidak disengaja, insight
c) Secara sengaja. Berusaha menemukan ciri-ciri atau kondisi yang benar-benar hakiki berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Dalam membentuk sebuah pengertian yang logis diperlukan tahapan sebagai berikut:
Analisis. Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis (analisis) dengan memperhatikan unsur-unsurnya.
Pembentukan pendapat.
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih.
Pendapat dapat dibedakan menjadi 3 macam,yaitu:
1) Pendapat afirmatif, atau positif, yaitu pendapat yang mendukung
2) Pendapat negatif, yaitu pendapat yang sama sekali menentang pendapat yang ada Pendapat modalitas atau ke’barangkali’an.
Penarikan kesimpulan.
Kesimpulan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk sebuah pendapat baru berdasarkan pendapatpendapat lainnya yang sudah ada. Ada 3 macam:
1) Kesimpulan induktif, yaitu pengambilan kesimpulan berdasarkan pendapat-pendapat khusus yang sudah menjadi pendapat umum.
2) Kesimpulan deduktif, yaitu pengambilan kesimpulan berdasarkan dari pendapat umum kemudian ditarik menjadi pendapat khusus. Ex: Logam kalau dipanaskan pasti memuai, besi adalah logam, jadi kalau dipanaskan pasti memuai.
3) Kesimpulan analogis, yaitu pengambilan kesimpulan yang diperoleh dengan membandingkan pendapat-pendapat khusus yang telah ada. Ex: Tono pandai, naik kelas; Tuti pandai, naik kelas juga; berarti Tini yang juga pandai, berarti pasti naik kelas.
Proses berpikir yang dilakukan oleh manusia pada umumnya bertujuan untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Berkaitan dengan hal ini, terdapat 2 macam strategi yang bisa digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan, yaitu:
a) Strategi menyeluruh, memecahkan masalah secara keseluruhan.
b) Strategi detailist, memecahkan masalah dari bagian-bagian kecil terlebih dahulu
Selain itu, manusia juga bisa memperoleh kesulitan dalam memecahkan suatu masalah yang disebabkan karena : Set. Yaitu cara yang berhasil memecahkan persoalan dan cenderung dipertahankan untuk memecahkan masalah-masalah lainnya. Padahal belum tentu masalah tersebut dapat dipecahkan dengan cara yang serupa Sempitnya pandangan. Kemampuan untuk melihat suatu masalah hanya dari satu kemungkinan saja. Hal ini menyebabkan kurangnya alternatif pemecahan masalah, sehingga terkadang justru menimbulkan kesulitan-kesulitan baru bagi individu. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya informasi/pengertian yang dimiliki.
b. Belajar
Belajar merupakan proses yang lebih dalam daripada berpikir. Berpikir hanya terbatas pada proses mental, sedangkan pada belajar terjadi proses perubahan perilaku individu. Pada studi psikologi, belajar (learn) merupakan sesuatu yang lebih luas daripada sekedar proses belajar tentang suatu pekerjaan atau suatu subjek akademis (study). Belajar juga berkaitan dengan masalah fundamental tentang perkembangan emosi, motivasi, perilaku dan kepribadian manusia.
Definisi yang dikemukakan para ahli mengenai belajar sangat beragam, tergantung dari pendekatan yang dilakukan. Sebagai kesimpulan dari banyaknya definisi tersebut, dapat dikemukakan bahwa dalam proses belajar ada 3 hal pokok (oleh Sumadi Suryabrata): Adanya perubahan, dalam hal ini perubahan perilaku (behavioral changes). Didapatnya suatu kecakapan baru, yang dibentuk dari perubahan perilaku tersebut.
Adanya usaha individu secara sengaja. Perubahan tersebut dapat terjadi karena adanya usaha individu yang dilakukan dengan sengaja dan bukan karena kematangan.
Belajar pada individu dipengaruhi oleh banyak faktor. Sarlito Wirawan Sarwono (dalam Pengantar Psikologi, 19..), menjelaskan bahwa proses belajar dipengaruhi oleh : Waktu istirahat, dengan adanya waktu istirahat maka timbul kesempatan untuk mengendapkan materi yang telah dipelajari. Pengetahuan mengenai materi yang dipelajari secara keseluruhan. Pengetahuan ini meliputi :
1. Pengertian terhadap materi yang dipelajari
2. Pengetahuan terhadap prestasi
3. Transfer
Menurut Sumadi Suryabrata, belajar dipengaruhi oleh :
1. Faktor dari luar individu. Yang termasuk faktor dari luar individu adalah :
a) Faktor Sosial, yaitu lingkungan social
b) Faktor Non-Sosial, yaitu lingkungan yang terdiri dari lingkungan secara fisik lingkungan di mana individu tersebut berada
2. Faktor dari dalam individu. Yang termasuk faktor dari dalam adalah:
a) Faktor Fisiologis, kondisi fisik dari individu
b) Faktor Psikologis, kondisi psikologis individu
Bagaimana proses terjadinya belajar dapat dijelaskan dengan berbagai macam teori dan pendekatan. Dari sekian banyak terdapat 2 pendekatan besar yang sering digunakan untuk menganalisa proses terjadinya belajar.
a) Belajar Asosiatif. Belajar asosiatif ini merupakan bentuk paling dasar dari belajar, dimana individu membuat hubungan dari dua atau lebih kejadian yang dialaminya. Dalam kelompok ini dikenal adanya : Classical Conditioning. Pada proses ini, perilaku yang muncul dikondisikan agar dapat tetap muncul dengan stimulus yang berbeda. Individu melekatkan 2 stimulus yang berbeda agar dapat menghasilkan respon yang sama. Misalnya pada penelitian mengenai air liur anjing yang dikondisikan agar dapat keluar dengan bunyi bel. Operant Conditioning. Pada proses ini, perilaku dimunculkan untuk mencapai suatu akibat tertentu.
Dalam proses Operant Conditioning ini dikenal adanya pemberian penguatan (reward) dan hukuman (punishment). Baik reward maupun punishment sama-sama bertujuan untuk memunculkan perilaku tertentu yang dikehendaki. Reward sendiri lebih ke arah mempertahankan perilaku yang sudah ada (sudah muncul) sehingga perilaku tersebut menetap pada individu dalam jangka waktu yang lama bahkan permanent. Sedangkan punishment lebih bertujuan untuk menghindari perilaku yang tidak dikehendaki.
Kelemahan dari sistem punishment adalah dampak yang ditimbulkan seringkali lebih tidak terduga, dibanding dengan dampak yang ditimbulkan oleh reward. Selain itu, punishment seringkali memberikan efek samping pada kondisi psikologis individu yang diberi perlakuan. Sebaiknya pemberian punishment disertai dengan pengalihan perilaku atau pemberian alternatif perilaku, sehingga perilaku individu dapat diarahkan sesuai dengan perilaku yang dikehendaki.
b) Belajar Kognitif. Belajar kognitif merupakan bentuk belajar yang lebih kompleks. Dalam proses ini individu berusaha untuk mengorganisasikan berbagai kejadian yang dialami dalam situasi belajar sehingga mempengaruhi perilaku individu. Dari proses belajar ini muncullah kemampuan individu untuk memecahkan masalah dengan menggunakan insight, yaitu tanpa proses trial and error. Proses belajar ini melibatkan juga penafsiran persepsi sekarang dari sudut pandang informasi masa lalu untuk memberi penalaran pada cara kita agar dapat menemukan cara- cara yang tidak kita kenal dalam memecahkan masalah.
4. Pertumbuhan dan Perkembangan
Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan semenjak lahir. Dalam psikologi istilah “perkembangan” berbeda dengan “pertumbuhan. Pertumbuhan adalah perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat pengaruh lingkungan. Material pribadi seperti: butir darah, rambut, lemak, dikatakan tumbuh. Perkembangan adalah pertumbuhan kualitatif pada segi fungsional terutama pada fungsi-fungsi kepribadian, bukan pada segi material. Fungsi kepribadian manusia berhubungan dengan aspek jasmaniah dan aspek kejiwaan.
Dalam psikologi memang sulit untuk ditetapkan batasan-batasan usia dalam perkembangan. Karena perkembangan psikologis individu berbeda tiaptiap orang sesuai stimulus yang diterimanya. Contohnya anak yang berusia 16 tahun, namun sudah berperilaku seperti seorang dewasa (sudah menikah, punya anak dst) akan berbeda dengan anak 16 tahun yang masih sekolah dan hidup bersama dengan orangtua. Dalam psikologi, perkembangan jiwa seseorang bersifat perorangan. Sedangkan dalam prakteknya, seringkalidi perlukan batasan yang tegas. Misalnya dalam hukum dan ilmu kesehatan. dalam hal hukum misalnya, UU Perkawinan menyebutkan bahwa batas usia perkawinan adalah 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi pria. Sedangkan dalam hal kesehatan telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa masa remaja adalah antara 11 hingga 20 tahun.
Oleh karena itu, para psikologi mencoba untuk melakukan periodisasi perkembangan, walaupun disadari sepenuhnya bahwa periodisasi ini tidak bersifat mutlak namun dapat menjadi acuan untuk memperkirakan berbagai tahapan perkembangan.
C. Penutup
Dimulai dari masa Yunani Kuno hingga masa Renaisans. Ilmu tentang jiwa pada masa ini merupakan bagian dari filsafat, yang artinya pada masa ini para filsuf berusaha untuk memahami manusia melalui pemikirannya yang mengutamakan logika. Proses ini terjadi tanpa adanya proses penelitian empiris, namun lebih menggunakan proses pemikiran logis dari para filsuf.
Masa Yunani. 3 Pemikiran besar mengenai jiwa manusia dikemukakan oleh 3 orang filsuf yang terkenal yaitu, Socrates, Plato, dan Aristoteles. Masa abad pertengahan. Pandangan mengenai jiwa manusia pada abad pertengahan sangat dipengaruhi oleh pandangan Gereja mengenai manusia. Tokoh filsuf yang terkenal pada masa ini adalah St. Agustinus dan Thomas Aquinas yang keduanya merupakan tokoh Gereja Katolik.
Masa Renaisans. Pada masa ini terjadi pergeseran pemahaman dari God-Centered menjadi Human-Centered. Pergeseran ini dipicu dengan adanya gerakan Marthin Luther. Pada masa ini cara berpikir secara empiris mulai berkembang sehingga Ilmu Pengetahuan mulai berkembang.
Masa Pasca Renaisans. Penggunaan riset empiris sudah semakin sering digunakan. Ilmu yang mengkaji manusia secara keseluruhan sudah berkembang. Pada saat ini kejiwaan dipandang sebagai bagian dari proses tubuh manusia, dan juga merupakan hasil genetis yang diturunkan dari orangtua kepada anak. Tokoh yang memiliki sumbangan besar terhadap Psikologi adalah Francis Bacon.
Masa akhir abad ke-19. Dipengaruhi oleh berkembangnya natural science dan metode ilmiah di kalangan ilmuwan Eropa, Psikologi dideklarasikan sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang mandiri. Pendeklarasian ini dilakukan oleh Wilhelm Wundt, pada tahung 1879 di Jerman. Selanjutnya aliran utama dalam psikologi adalah Fungsionalisme, Behaviorisme, Psikoanalisa, Psikologi Gestalt, dan Psikologi Humanistik.
Secara harafiah, Psikologi berarti "Ilmu Jiwa", karena berasal dari kata Psyche dan Logos. Pengertian ini merupakan sebuah pengertian yang sangat luas dan sangat sulit untuk dipahami. Untuk dapat memahami gambaran definisi Psikologi, ada baiknya kembali meninjau focus studi yang telah dilakukan semenjak Psikologi berdiri sebagai ilmu pengetahuan.
Dalam perkembangannya psikologi merupakan sebuah studi yang memfokuskan diri pada pengalaman-pengalaman sadar manusia. Pengalaman ini berhubungan dengan sensasi-sensasi yang dirasakan sehingga manusia dapat mengenali pengalaman tersebut. Studi yang kemudian menjadi dasar untuk menjadi Ilmu Pengetahuan yang mandiri. Wilhelm Wundt adalah tokoh sentral dalam studi ini.
Sigmund Freud. sebagai tokoh pencetus studi ini, mengatakan bahwa "kesadaran" adalah sebuah kondisi yang sangat kecil sekali pengaruhnya pada jiwa manusia. "Alam bawah sadar" atau "ketidaksadaran" merupakan sesuatu yang lebih dominan dalam mempengaruhi jiwa manusia.
Sir Francis Galton lebih memandang Psikologi sebagai suatu yang berhubungan dengan faktor genetis yang saling berkombinasi. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan yang terjadi pada setiap manusia. Galton, yang memiliki latar belakang sebagai ahli biologi, memilih sudut pandang biologis dalam melakukan pemahaman terhadap kondisi kejiwaan seseorang.
Berbeda dengan studi-studi sebelumnya yang lebih banyak menekankan pada pertanyaan "mengapa", studi ini lebih menekankan pada "apa". Yang menjadi fokus penelitian pada studi adalah "Tingkah laku apa yang tampak" (respon), dan "apa yang menyebabkan perilaku tersebut terjadi (stimulus).. Studi ini lebih menonjolkan pengukuran dan pengamatan terhadap perilaku manusia. HIngga sekarang, studi ini masih sering digunakan sebagai pedoman dalam memahami kondisi kejiwaan seseorang.
Berbagai macam studi yang sudah dilakukan oleh para ahli pada masa lalu merupakan dasar bagi perkembangan Psikologi pada masa sekarang. Psikologi sebagai sebuah Ilmu Pengetahuan memiliki ruang lingkup yang sangat luas, sehingga untuk memahaminya diperlukan pendekatan-pendekatan sehingga Psikologi dapat dipahami dengan baik. Lima pendekatan yang sering digunakan dalam memahami Psikologi adalah Pendekatan Kognitif, Behavioral, Psikoanalisa, Neurobiologi, dan Psikofenomenologi. Pertumbuhan merupakan perubahan secara kuantitatif pada material pembentuk tubuh manusia.
Perkembangan adalah perubahan kualitatif yang terjadi pada segi fungsional khususnya pada fungsi-fungsi kepribadian. Para ahli berusaha untuk membuat periodisasi perkembangan berdasarkan beberapa sudut pandang, hal ini disebabkan karena tingkat perkembangan manusia sebenarnya sangat beragam dan sanagt dipengaruhi oleh budaya dan banyak hal lainnya. Periodisasi yang ada dibuat berdasarkan sudut pandang pertumbuhan biologisnya, sudut pandang pendidkan dan sudut pandang perkembangan psikologisnya.
Setiap periodisasi yang ditetapkan tidak lebih benar dari yang lain, namun diharapkan dapat membantu pemahaman terhadap perkembangan manusia sesuai dengan konteksnya, misalnya untuk masalah-masalah pendidikan cenderung digunakan periodisasi berdasarkan sudut pandang pendidikan.
Daftar Pustaka
Sarlito Wirawan, Pengantar Psikologi Umum, Jakarta : Bulan Bintang, 1961
Rita L. Atkinson, Pengantar Psikologi jilid I. Edisi ke-8, Jakarta : Erlangga, 1983
Rita L. Atkinson, Pengantar Psikologi jilid II. Edisi ke-11, Batam: Interaksara, 1983
Elizabeth Hall, Bootsin, Gordon H. Bower dan Jennifer Crocker, Psychology Today : an
Introduction. 7th edition. McGraw-Hill, 1983
Elizabeth Hurlock. Psikologi Perkembangan.Edisi ke-5. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1991
Berikutnya
Selasa, 29 Mei 2012
Rabu, 21 Januari 2009
PENDEKATAN PROBLEM SOLVING MATEMATIKA PADA KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
Oleh : Lalu Muhammad Fauzi
Pada hakekatnya pendidikan dalam kontek pembangunan nasional mempunyaio fingsi (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan dan, (3) pengembangan potensi diri. Standar nasional pendidikan memuat criteria minimaltentang komponen pendidikan yang memungkunkan setiap jenjang dan jalur pendidikan untuk mengembangkan pendidikan secar optimal sesuai denga karakteristik dan kehasan programnya. Demikian juga untuk jalur pendidikan non formalyang memiliki karakteristik tidak tersetruktur untuk mengembangkan programnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Istilah kurikulum memiliki berbgai tafsiran yang dirum,uskan oleh pakar-pakar dalam bidang ppengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan sekarang ini. Dari serangkaian tafsiran para pakar-pakar ini memberikan arti kurikulum sebagai:
1. Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran
Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.
2. Kurikulum sebagai rencama pembelajaran.
Suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program ini siswa melakukan berbagai kegiatan belajarbelajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.
3. Kurikulum sebagai pengalaman belajar
Coba kita lihat salah satu bagian dari tujuan umum pada SK dan KD yaitu:
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Dilihat dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa pada seluruh komponen baik pada SI, SK dan KD serta pada SKL telah dijabarkan dengan jelas bahwa pendekatan yang digunakan pada matematika adalah pemecahan masalah (problem solving). Tapi perlu kita tahu apa itu pendekatan pemecahan masalah dalam matematika.
Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan kemampuan dan keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan dalam pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Melalui kegiatan ini aspek-aspek kemampuan matematika penting seperti penerapan aturan pada maslah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi matematika dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik. Namun demikian, kenyataan dilapangan menunjukan bahwa kegiatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika belum dijadikan sebagai kegiatan utama. Padahal di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan jepang kegiatan tersebut dapat dikatakan merupakan inti dari dari kegiatan pembelajaran matematika sekolah. Selain itu, Suryadi dkk (1999) dalam survey tentang “Curerent situation on mathematics and science education in Bandung” yang diseponsori oleh JICA, antara lain menemukan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matemtika yang dianggap penting baik oleh para guru maupun siswa di semua tingkatan sekolah dasar dan menengah. Tapi hal tersebut menjadi sebuah persoalan yang sulit dalam matematika baik bagi siswa dalam mempelajarinya maupun bagi guru dalam mengajarkannya. Yang menjadi pertanyaan mengapa terjadi demikian? Jawabanya adalah karena para guru masih belum mau melepaskan metodee drill, atau mungkin belum dipahaminya tentang pendekatan pemecahan masalah dalam matematika atau mungkin para guru iongin mengambil gampangnya saja.
Sebagaiman tercantum dalam Kurikulum Matematika sekolah bahwa tujuan diberikannya matematika antara lain agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan di dunia yang selalau berkenbang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif. Hal ini jelas merupakan tuntunan sangat tinggi yang tidak mungkin bias disapai hanya melalui hafalan, latihan penyelesaian soal yang bersifat rutin, serta proses pembelajaran biasa.
Disadari atau tidak setiap hari kita harus menyelesaikan berbagai masalah. Dalam penyelesaian suatu masalah, kita sering kali dihadapkan pada suatu hal yang pelik dan kadang-kadang pemecahannya tidak dapat diperoleh dengansegera. Tidak bias dipungkiri masalah yang biasa dihadapai sehari-hari itu tidak selamanya bersifat matematis. Dengan dedmikian tugas utama guru adalah untuk membantu siswa menyelesaikan berbagai masalah dengan spectrum yang luas yakni membantu mereka untuk dapat memahami makna kata-kata atau istilah yang muncul dalam suatu masalah sehingga kemampuannya dalam memahami konteks madalah bias terus berkembang, menggunakan kemampuan inkuiri dalam sain, menganalisa alas an mengapa suatu masalah itu muncul dalam studi social, dan lain-lain. Dalam Matematika, hal tersebut bisa berupa pemecahan masalah matematika yang didalamnya termasuk soal ceritera.
Guru menghadapi kesulitan dalam mengerjakan bagaimana cara menyelesaiakan masalah dengan baik, dilain fihak siswa menghadapi kesulitan bagaimana menyelesaikan madalah yang dibnerikan guru. Berbagai kesulitan ini muncul antara lain karena mencari jawaban dipandang sebagai satu-satunya tujuan yang ingin dicapai. Karena hanya berfokus padda jawaban, anak seringkali salah dalam memilih teknik penyelesaian yang sesuai.
Suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Juka suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak itu langsung mengetahu secara sara penyelesaiannya dengan benar maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai maslah.
Berbisara tentang pemecahan masalah tidak bisa lepas dari tokoh utamanya yaitu G. Polya. Menurut Polya, dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah yang harus dilakaukan yaitu: (1) memahami masalah, (2) merencanakan pemecahannya, (3) menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana dan (4) memeriksa kembali hasil yang diperoleh.
Empat tahap pemecahan malsalah dari Polya tersebut merupakan satu kesatuan yang sangat penting untuk dikembangkan. Salah satu cara mengembangkan kemampuan anak dalam memecahkan maslah adalah melalui mpenyedian pengalaman pemecahan masalah yang memerlukan strategi yang berbeda-beda dari satu masalah ke maslah lain.
Daftar pustaka
Suherman, H. Erman dkk, (2003), Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, UPI, Bandung.
Hamalik, Umar. (2007), Kurikulm dan Pembelajaran, Bumi aksara.
______, (2007) Panduan Penyususnan KTSP Lengkap,Pustaka Yustitia, Yogyakarta.
Berikutnya
Pada hakekatnya pendidikan dalam kontek pembangunan nasional mempunyaio fingsi (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan dan, (3) pengembangan potensi diri. Standar nasional pendidikan memuat criteria minimaltentang komponen pendidikan yang memungkunkan setiap jenjang dan jalur pendidikan untuk mengembangkan pendidikan secar optimal sesuai denga karakteristik dan kehasan programnya. Demikian juga untuk jalur pendidikan non formalyang memiliki karakteristik tidak tersetruktur untuk mengembangkan programnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Istilah kurikulum memiliki berbgai tafsiran yang dirum,uskan oleh pakar-pakar dalam bidang ppengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan sekarang ini. Dari serangkaian tafsiran para pakar-pakar ini memberikan arti kurikulum sebagai:
1. Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran
Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.
2. Kurikulum sebagai rencama pembelajaran.
Suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program ini siswa melakukan berbagai kegiatan belajarbelajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.
3. Kurikulum sebagai pengalaman belajar
Coba kita lihat salah satu bagian dari tujuan umum pada SK dan KD yaitu:
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Dilihat dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa pada seluruh komponen baik pada SI, SK dan KD serta pada SKL telah dijabarkan dengan jelas bahwa pendekatan yang digunakan pada matematika adalah pemecahan masalah (problem solving). Tapi perlu kita tahu apa itu pendekatan pemecahan masalah dalam matematika.
Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan kemampuan dan keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan dalam pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Melalui kegiatan ini aspek-aspek kemampuan matematika penting seperti penerapan aturan pada maslah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi matematika dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik. Namun demikian, kenyataan dilapangan menunjukan bahwa kegiatan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika belum dijadikan sebagai kegiatan utama. Padahal di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan jepang kegiatan tersebut dapat dikatakan merupakan inti dari dari kegiatan pembelajaran matematika sekolah. Selain itu, Suryadi dkk (1999) dalam survey tentang “Curerent situation on mathematics and science education in Bandung” yang diseponsori oleh JICA, antara lain menemukan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matemtika yang dianggap penting baik oleh para guru maupun siswa di semua tingkatan sekolah dasar dan menengah. Tapi hal tersebut menjadi sebuah persoalan yang sulit dalam matematika baik bagi siswa dalam mempelajarinya maupun bagi guru dalam mengajarkannya. Yang menjadi pertanyaan mengapa terjadi demikian? Jawabanya adalah karena para guru masih belum mau melepaskan metodee drill, atau mungkin belum dipahaminya tentang pendekatan pemecahan masalah dalam matematika atau mungkin para guru iongin mengambil gampangnya saja.
Sebagaiman tercantum dalam Kurikulum Matematika sekolah bahwa tujuan diberikannya matematika antara lain agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan di dunia yang selalau berkenbang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif. Hal ini jelas merupakan tuntunan sangat tinggi yang tidak mungkin bias disapai hanya melalui hafalan, latihan penyelesaian soal yang bersifat rutin, serta proses pembelajaran biasa.
Disadari atau tidak setiap hari kita harus menyelesaikan berbagai masalah. Dalam penyelesaian suatu masalah, kita sering kali dihadapkan pada suatu hal yang pelik dan kadang-kadang pemecahannya tidak dapat diperoleh dengansegera. Tidak bias dipungkiri masalah yang biasa dihadapai sehari-hari itu tidak selamanya bersifat matematis. Dengan dedmikian tugas utama guru adalah untuk membantu siswa menyelesaikan berbagai masalah dengan spectrum yang luas yakni membantu mereka untuk dapat memahami makna kata-kata atau istilah yang muncul dalam suatu masalah sehingga kemampuannya dalam memahami konteks madalah bias terus berkembang, menggunakan kemampuan inkuiri dalam sain, menganalisa alas an mengapa suatu masalah itu muncul dalam studi social, dan lain-lain. Dalam Matematika, hal tersebut bisa berupa pemecahan masalah matematika yang didalamnya termasuk soal ceritera.
Guru menghadapi kesulitan dalam mengerjakan bagaimana cara menyelesaiakan masalah dengan baik, dilain fihak siswa menghadapi kesulitan bagaimana menyelesaikan madalah yang dibnerikan guru. Berbagai kesulitan ini muncul antara lain karena mencari jawaban dipandang sebagai satu-satunya tujuan yang ingin dicapai. Karena hanya berfokus padda jawaban, anak seringkali salah dalam memilih teknik penyelesaian yang sesuai.
Suatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Juka suatu masalah diberikan kepada seorang anak dan anak itu langsung mengetahu secara sara penyelesaiannya dengan benar maka soal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai maslah.
Berbisara tentang pemecahan masalah tidak bisa lepas dari tokoh utamanya yaitu G. Polya. Menurut Polya, dalam pemecahan suatu masalah terdapat empat langkah yang harus dilakaukan yaitu: (1) memahami masalah, (2) merencanakan pemecahannya, (3) menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana dan (4) memeriksa kembali hasil yang diperoleh.
Empat tahap pemecahan malsalah dari Polya tersebut merupakan satu kesatuan yang sangat penting untuk dikembangkan. Salah satu cara mengembangkan kemampuan anak dalam memecahkan maslah adalah melalui mpenyedian pengalaman pemecahan masalah yang memerlukan strategi yang berbeda-beda dari satu masalah ke maslah lain.
Daftar pustaka
Suherman, H. Erman dkk, (2003), Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, UPI, Bandung.
Hamalik, Umar. (2007), Kurikulm dan Pembelajaran, Bumi aksara.
______, (2007) Panduan Penyususnan KTSP Lengkap,Pustaka Yustitia, Yogyakarta.
Minggu, 04 Januari 2009
PANDANGAN TENTANG MATEMATIKA SEKOLAH
Oleh Lalu Muhammad Fauzi
Banyak guru mulai menggunakan apa yang disebut “pendekatan standar ”Pembelajaran yang lebih kooperatif, loebih menekankan pada konsep dan pemecahan soal dan toleransi yang luas terhadap penggunaan kalkulator.Perubahan-perubahan ini sering tidak mendasar dan tidak benar-benar mengubah sifat apa yang siswa kerjakan dan bagaiman mereka berfikir di dalam pelajaran matematika.
Kebanyak orang berfikir bahwa matematika adalah sebuah mata pelajaran yang penting tetapi hanya sebagian yang memahami apa sebenarnya matematika itu. Untuk kebanyakan orang, mengataklan bahwa matematika adalah kumpulan aturan yang harus dimengerti, perhitungan-perhitungan aritmetika, persamaan aljabar yang abstrak dan bukti-bukti geometris dan lain sebagainya. Pandangan ini sangat berbeda dengan pandangan terhadap matematika yang memberti arti objek-objek matematika seperti data, bentuk perubahan atau pola.
Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat diantara matematikawan, apa yang disebut matematika. Sasaran penalaran matematika tidak konkrit melainkan abstrak. Dengan mengetahui sasaran matematika kita dapat mengetahui hakekat matematika yang sekali gus dapat kita ketahui juga cara berfikir matematika itu.(Herman Hudodo,1988;2)
Kalau kita telaah bahwa matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan-bilangan serta operasi-operasinya melainkan, juga unsure ruang sebagai sasarannya. Bagaimana pandangan ini bisa menjadi lazim di masyarakat kita?. Jawaban terbaik dapat ditemukan dalam pendekatan yang digunakan guru dalam mengajar matematika. Memang pengajaran tradisional masih merupakan pola pengajaran utama, karena tuntutan dan tanggungan yang cukup berat bagi guru, Yang biasanya diawali dengan penjelasan tentang ide-ide yang terdapat dalam halaman buku yang dipelajari, kemudian diikuti dengan menunjukan kepada siswa bagaiman mengerjakan latihan soal. Bahkan ketika siswa berkegiatan, guru masih menuntun siswa bagaimana menggunakan materi yang dipelajari untuk menjawab soal.
Kalau dilihat dari tuntuan KTSP tentang pembelajaran matematika maka cara tersebut diatas jauh dari tujuan yang diharapkan.Coba kita lihat dari standar isi dan standar kompetensi dan kompetensi dasar di situ jelas jelah pada setiap langakh dijelaskan bahwa matematika menggunakan metode pemecahan masalah dengan tujuan untuk meningkatkan daya fikir siswa yang kreatif. Akan tetapi kembali lagi kepada persoalan tuntutan tadi.
Matamtika adalah ilmu tentang pola dan urutan (Jhon A. Van De walle, 2006, 13) Difinisi ini menantang pandangan masyarakat terhadap matematika sebagai ilmu yang didominasi oleh perhitungan. Ilmu pengetahuan merupakan proses penggambaran sesuatu atau memberi arti tentang sesuatu. Memang ilmu pengtahuan berawal dari soal tetapi pada suatu situasi. Meskipun mungkin kita tidak pernah memikirkannya, matematika adalah ilmu tentang sesuatu yang meilki pola keteraturan dan urutan yang logis. Menemukan dan mengungkapkan keteraturan atau urutan ini dan kemudian memberikan arti merupakan makna dari mengerjakan matematika.
Sebagai contoh, pernahkah kita sebagi seorang guru memikirkan bahwa 6 + 7 sama dengan 5 + 8 dan 4 + 9? Bagaimana polanya?, Bagaiman hubungannya? atau contoh lain jika dua bilangan ganjil dikalikan dengan bilangan ganjil maka hasilnya adalah bilangan ganjil, tetapi jika dua bilangan ganjil di jumlahkan atau dikurangkan hasilnya adalah bilangan genab.
Adapun perinsip dan standar matematika sekolah dirancang untuk meberikan petunjuk dan arahan bagi para guru dan pihak-pihak lain yang terkait dengan pembelajaran matematika. Salah satu ciri yang paling penting dari prinsip-prinsip dan standar matematika sekolah adalah adanya enam perinsip dasar untuk mencapai pendidikan matematika yang berkualitas tinggi yaitu:
1. Prinsip Kesetaraaan
Pran yang kuat dari prinsip kesetaraan adalah harapan yang tinggi utnuk semua siswa. Semua siswa harus mempunyai kesempatan dan dukungan yang cukup untuk belajar matematika “tampa memandang karakteristik persoalan, latar belakang atau hambatan fisik”.
2. Prinsip Kurikulum
Koheren berkaitan dengan pentingnya membangun atau mengembangkan pengajaran seputar ide-ide baik didalam kurikulum maupun pengajaran didam kelas. Para siswa harus dibantu untuk melihat bahwa matematika merupakan sesuatu yang utuh dan terjalin. Bukan kumpulan bagian-bagian yang terlepas.
Ide-ide matematika itu penting jika ide-ide itu berguna bagi pengembangan yang lain, menghubungkan ide yang satu dengan yang lainya, atau membantu mengilustrasikan mata pelajaran matematika sebagai usaha manusia.
3. Prinsip Pengajaran
Apa yang siswa pelajari hampir seluruhnya tergantung pada pengalaman guru mengajar di dalam kelas setiap hari. Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas para guru harus (1) memahami secara mendalam matematika yang mereka ajarkan (2)memahami bagaimana siswa belajar matematika, tyermasuk didalamnya mengetahui perkembangan matematika siswa secara individu, dan (3) memilih tugas-tugas dan strategi yang akan meningkatkan mutu proses pengajaran. Tugas para giuru adalah mendorong siswanya untuk berfikir, bertanya, menyelesaikan soal, dan mendiskusikan ide-ide juga strategi
4. Prinsip Pembelajaran
Prinsip ini didasari pada dua ide dasar . yang pertama, belajar matematika dengan pemahaman, adalah penting. Belajar matematika tidak hanya memerlukan keterampilan menghitung tetapi juga memerlukan kecakapan untuk berfikir. Yang kedua prinsip-prinsip ini dengan sangat jelas menyetakan bahwa siswa dapat belajar matematika dengan pemahaman. Belajar ditingkatkan dalam kelas dengan cara para siswa diminta utuk menuilai ide-ide mereka atau ide-ide temanya, di dorong untuk membuat dugaan tentang matematika lalu mengujinya dan mengembangkan keterampilan memberi alasan yang logis.
5. Prinsip Penilaian
Penilaian harus tidak semata-mata untuk menilai siswa, akan tetapi lebih pada menilai diri sendiri sebagai guru dan harus dimanfaatkan juga untuk siswa yakni untuk menggairahkan untuk meningkatkan belajarnya.Penilaian yang melibatkan pengamatan yang terus menerus dan interaksi siswa, akan mendorong siswa untuk menyampaikan dan menjelaskan gagasan dengan lancer. Umpan balik dari penilaian harian akan membantu siswa mencapai tujuannya dan menjadikan mereka tidak selalu bergantung kepada orang lain.
6. Prinsip Tehnologi
Kalkulator dan computer harus dilihat sebagai alat yang penting dalam belajar dan mengerjakan matematika di kelas. Tehnologi memungkinkan siswa untuk memfokuskan diri pada ide-ide matematika, pemahaman, dan menyelesaikan soal, yang tidak mungkin dikerjakan tampa bantuan kalkulator atau computer. Tehnologi meningkatkan proses belajar matematika karena memungkinkan eksplorasi yang lebih luas dan memperbaiki penyajian ide-ide matematika. Dengan tehnologi lebih banyak soal dapat dipecahkan. Dengan tehnologi juga memungkinkan siswa tertentu untuk mengesampingkan bagian yang kurang penting sehingga waktunya dapat dipakai memahami bagian matematika yang penting.
Daftar pustaka
Walle, Jhon A. Van de. Matamtika sekolah dasar dan Menegah, Jakarta, Erlangga, 2006Hudodo, Herman. Mengajar Belajar Matematika, Debdikbud, 1988
Berikutnya
Banyak guru mulai menggunakan apa yang disebut “pendekatan standar ”Pembelajaran yang lebih kooperatif, loebih menekankan pada konsep dan pemecahan soal dan toleransi yang luas terhadap penggunaan kalkulator.Perubahan-perubahan ini sering tidak mendasar dan tidak benar-benar mengubah sifat apa yang siswa kerjakan dan bagaiman mereka berfikir di dalam pelajaran matematika.
Kebanyak orang berfikir bahwa matematika adalah sebuah mata pelajaran yang penting tetapi hanya sebagian yang memahami apa sebenarnya matematika itu. Untuk kebanyakan orang, mengataklan bahwa matematika adalah kumpulan aturan yang harus dimengerti, perhitungan-perhitungan aritmetika, persamaan aljabar yang abstrak dan bukti-bukti geometris dan lain sebagainya. Pandangan ini sangat berbeda dengan pandangan terhadap matematika yang memberti arti objek-objek matematika seperti data, bentuk perubahan atau pola.
Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat diantara matematikawan, apa yang disebut matematika. Sasaran penalaran matematika tidak konkrit melainkan abstrak. Dengan mengetahui sasaran matematika kita dapat mengetahui hakekat matematika yang sekali gus dapat kita ketahui juga cara berfikir matematika itu.(Herman Hudodo,1988;2)
Kalau kita telaah bahwa matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan-bilangan serta operasi-operasinya melainkan, juga unsure ruang sebagai sasarannya. Bagaimana pandangan ini bisa menjadi lazim di masyarakat kita?. Jawaban terbaik dapat ditemukan dalam pendekatan yang digunakan guru dalam mengajar matematika. Memang pengajaran tradisional masih merupakan pola pengajaran utama, karena tuntutan dan tanggungan yang cukup berat bagi guru, Yang biasanya diawali dengan penjelasan tentang ide-ide yang terdapat dalam halaman buku yang dipelajari, kemudian diikuti dengan menunjukan kepada siswa bagaiman mengerjakan latihan soal. Bahkan ketika siswa berkegiatan, guru masih menuntun siswa bagaimana menggunakan materi yang dipelajari untuk menjawab soal.
Kalau dilihat dari tuntuan KTSP tentang pembelajaran matematika maka cara tersebut diatas jauh dari tujuan yang diharapkan.Coba kita lihat dari standar isi dan standar kompetensi dan kompetensi dasar di situ jelas jelah pada setiap langakh dijelaskan bahwa matematika menggunakan metode pemecahan masalah dengan tujuan untuk meningkatkan daya fikir siswa yang kreatif. Akan tetapi kembali lagi kepada persoalan tuntutan tadi.
Matamtika adalah ilmu tentang pola dan urutan (Jhon A. Van De walle, 2006, 13) Difinisi ini menantang pandangan masyarakat terhadap matematika sebagai ilmu yang didominasi oleh perhitungan. Ilmu pengetahuan merupakan proses penggambaran sesuatu atau memberi arti tentang sesuatu. Memang ilmu pengtahuan berawal dari soal tetapi pada suatu situasi. Meskipun mungkin kita tidak pernah memikirkannya, matematika adalah ilmu tentang sesuatu yang meilki pola keteraturan dan urutan yang logis. Menemukan dan mengungkapkan keteraturan atau urutan ini dan kemudian memberikan arti merupakan makna dari mengerjakan matematika.
Sebagai contoh, pernahkah kita sebagi seorang guru memikirkan bahwa 6 + 7 sama dengan 5 + 8 dan 4 + 9? Bagaimana polanya?, Bagaiman hubungannya? atau contoh lain jika dua bilangan ganjil dikalikan dengan bilangan ganjil maka hasilnya adalah bilangan ganjil, tetapi jika dua bilangan ganjil di jumlahkan atau dikurangkan hasilnya adalah bilangan genab.
Adapun perinsip dan standar matematika sekolah dirancang untuk meberikan petunjuk dan arahan bagi para guru dan pihak-pihak lain yang terkait dengan pembelajaran matematika. Salah satu ciri yang paling penting dari prinsip-prinsip dan standar matematika sekolah adalah adanya enam perinsip dasar untuk mencapai pendidikan matematika yang berkualitas tinggi yaitu:
1. Prinsip Kesetaraaan
Pran yang kuat dari prinsip kesetaraan adalah harapan yang tinggi utnuk semua siswa. Semua siswa harus mempunyai kesempatan dan dukungan yang cukup untuk belajar matematika “tampa memandang karakteristik persoalan, latar belakang atau hambatan fisik”.
2. Prinsip Kurikulum
Koheren berkaitan dengan pentingnya membangun atau mengembangkan pengajaran seputar ide-ide baik didalam kurikulum maupun pengajaran didam kelas. Para siswa harus dibantu untuk melihat bahwa matematika merupakan sesuatu yang utuh dan terjalin. Bukan kumpulan bagian-bagian yang terlepas.
Ide-ide matematika itu penting jika ide-ide itu berguna bagi pengembangan yang lain, menghubungkan ide yang satu dengan yang lainya, atau membantu mengilustrasikan mata pelajaran matematika sebagai usaha manusia.
3. Prinsip Pengajaran
Apa yang siswa pelajari hampir seluruhnya tergantung pada pengalaman guru mengajar di dalam kelas setiap hari. Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas para guru harus (1) memahami secara mendalam matematika yang mereka ajarkan (2)memahami bagaimana siswa belajar matematika, tyermasuk didalamnya mengetahui perkembangan matematika siswa secara individu, dan (3) memilih tugas-tugas dan strategi yang akan meningkatkan mutu proses pengajaran. Tugas para giuru adalah mendorong siswanya untuk berfikir, bertanya, menyelesaikan soal, dan mendiskusikan ide-ide juga strategi
4. Prinsip Pembelajaran
Prinsip ini didasari pada dua ide dasar . yang pertama, belajar matematika dengan pemahaman, adalah penting. Belajar matematika tidak hanya memerlukan keterampilan menghitung tetapi juga memerlukan kecakapan untuk berfikir. Yang kedua prinsip-prinsip ini dengan sangat jelas menyetakan bahwa siswa dapat belajar matematika dengan pemahaman. Belajar ditingkatkan dalam kelas dengan cara para siswa diminta utuk menuilai ide-ide mereka atau ide-ide temanya, di dorong untuk membuat dugaan tentang matematika lalu mengujinya dan mengembangkan keterampilan memberi alasan yang logis.
5. Prinsip Penilaian
Penilaian harus tidak semata-mata untuk menilai siswa, akan tetapi lebih pada menilai diri sendiri sebagai guru dan harus dimanfaatkan juga untuk siswa yakni untuk menggairahkan untuk meningkatkan belajarnya.Penilaian yang melibatkan pengamatan yang terus menerus dan interaksi siswa, akan mendorong siswa untuk menyampaikan dan menjelaskan gagasan dengan lancer. Umpan balik dari penilaian harian akan membantu siswa mencapai tujuannya dan menjadikan mereka tidak selalu bergantung kepada orang lain.
6. Prinsip Tehnologi
Kalkulator dan computer harus dilihat sebagai alat yang penting dalam belajar dan mengerjakan matematika di kelas. Tehnologi memungkinkan siswa untuk memfokuskan diri pada ide-ide matematika, pemahaman, dan menyelesaikan soal, yang tidak mungkin dikerjakan tampa bantuan kalkulator atau computer. Tehnologi meningkatkan proses belajar matematika karena memungkinkan eksplorasi yang lebih luas dan memperbaiki penyajian ide-ide matematika. Dengan tehnologi lebih banyak soal dapat dipecahkan. Dengan tehnologi juga memungkinkan siswa tertentu untuk mengesampingkan bagian yang kurang penting sehingga waktunya dapat dipakai memahami bagian matematika yang penting.
Daftar pustaka
Walle, Jhon A. Van de. Matamtika sekolah dasar dan Menegah, Jakarta, Erlangga, 2006Hudodo, Herman. Mengajar Belajar Matematika, Debdikbud, 1988
Langganan:
Postingan (Atom)